Ranu Kumbolo
Indonesia

Camping di Ranu Kumbolo

Keinginanku untuk naek Ranu Kumbolo sudah dari tahun 2012, tapi baru tahun ini keturutan. Tahun 2012 aku pernah camping bersama seorang teman di Ranu Pane dan hari berikutnya berniat naik ke Ranu Kumbolo, tapi karena logistik dan pakaian gak mencukupi jadi gak jadi, soalnya di Ranu Pane aja malemnya kami sudah kedinginan.

Aku dan Christian sama-sama tidak berpengalaman dalam urusan camping jadi kami ikutan tur ngalamtrip.com yang menyediakan paket 2h1m dengan harga Rp 700.000. Karena Christian orang asing jadi ada tambahan biaya sebesar Rp 515.000 untuk tiket masuk Semeru selama 2 hari, jauh lebih mahal dibandingkan tiket untuk orang lokal. Pengeluaran tambahanku lainnya untuk sewa sleeping bag, trekking pole, jaket dan backpack besar sekitar Rp 230.000, yang sewanya juga di turnya karena gak mau ribet cari sendiri 😀 Kalo porter+tenda+matras+makannya sudah dari tur.

oh iya untuk melalukan pendakian ke kawasan Semeru, termasuk ke Ranu Kumbolo, butuh beberapa dokumen dan juga harus daftar online karena ada kuotanya perhari 600 orang yang boleh naik. Silakan cek disini untuk keterangan lebih lanjut https://bookingsemeru.bromotenggersemeru.org/

Kami berangkat ke Malang naik kereta api dan sampai di tempat jam 08:15 pagi, setelah itu kami dijemput oleh pihak ngalam trip dan diantar ke tempat mereka yang ada di desa Wringinanom. Disitu kami diberi barang-barang yang kami sewa, orangnya yang punya tur baik banget bahkan kami juga ditawari makan. Kami menunggu disitu kurang lebih sampai jam 11 lalu kami diantar ke Ranu Pane dengan sepeda motor. Perjalanan ke sana butuh waktu sekitar 45 menitan dan pemandangannya luar biasa cantiknya. Bisa lihat dari atas savananya Bromo atau apa ya itu semacam padang nya, kurang tau juga 😛 pokoknya bener2 cakep banget selama perjalanan, I enjoyed it so much. Tapi karena naek motor dan anginnya kencang jadinya udaranya dingin meskipun siang hari dan aku cuma pake jaket kain biasa. Selama jalan ke Ranu Pane lewat 3 air terjun dan niatnya sih kesana setelah pulang kalo masih kuat…

Begitu sampai di Ranu Pane kami masih harus menunggu sampai loketnya buka, kurang lebih 1,5 jam nunggunya. Habis urusan admin selesai, langsung disuru masuk ke aula untuk briefing. Briefingnya kurang lebih mengenai apa yang boleh dan gak boleh dilakukan selama disana, tapi aku seneng banget sama bagaimana cara orangnya menyampaikan, banyak jokesnya soalnya 😀

Habis briefing, kami mulai jalan sekitar jam 14:30 dan kami lewat jalan pintas yang katanya mas porter (lupa namanya siapa), beda 30 menit, lumayan lah sampe post 1 butuh waktu 1 jam. Dari post 1 ke 2 cuma butuh waktu 30 menit, post 2 ke 3 butuh waktu 1 jam, post 3 ke 4 sekitar 45 menitan dan post 4 ke Ranu Kumbolo sekitar 15-20 menitan. Menurutku jalanan untuk sampai ke Ranu Kumbolo tidaklah terlalu berat, kebanyakan jalannya datar dan cuma di beberapa tempat dan sebentar saja yang agak menanjak. Di setiap post dan di Ranu Kumbolo selalu ada yang jualan seperti kopi, teh, semangka, gorengan, pop mie dan jajan lainnya.

Ranu Kumbolo

Sepanjang jalan kami sering bertemu rombongan yang lain, beberapa kali ketemu sama rombongan yang turun mereka pasti bilang “semangat, tinggal sebentar lagi kok mbak” padahal masih jauh. 😀 Terus waktu jalan kami ga merasa kedingingan cuma pakai kaos dan jaket biasa, tapi begitu gelap aku menggunakan jaket winterku dan sarung tangan. Begitu sudah gelap langit dipenuhi oleh bintang bertebaran, cantik sekali.. Tuhan memang luar biasa.

Oro Oro Ombo

Kami sampai di Ranu Kumbolo jam 19:00 dan si masnya begitu sampai langsung mendirikan tenda dan memasak nasi soto dan telor untuk kami. Aku langsung menuju toilet 😛 toilet barunya yang ada airnya bayar 5000, toilet lama juga ada tapi gak ada airnya. Kami menghabiskan sisa malam itu makan, lihat2 langit dan berusaha tidur karena capek. Walaupun Christian berasal dari negara 4 musim tapi dia kedinginan malam itu, mana sleeping bagnya sesak dan agak kekecilan pula. Jadinya hampir semalaman dia gak bisa tidur, malah makan camilan dan sekitar 03:30 dia keluar ke toilet. Terus aku jam 04:00 bangun dan mencari dia karena gak kembali2, ternyata dia ikutan api unggun bapak yang jualan. Dan akhirnya kami stay disitu sampai jam 07:00. Tapi malam itu sungguh dingin sekali apalagi anginya kencang, aku gak nyangka sedingin itu.

Oro Oro Ombo
Christian di Oro Oro Ombo

Setelah matahari terbit kami naik ke Tanjakan cinta kemudian ke Oro-oro Ombo. Mitosnya kalo naik tanjakan cinta gak boleh noleh ke belakang karena bisa susah dapat jodoh. Tapi aku tetep sering noleh ke belakang untuk ngambil foto, atau ngliatin orang2 foto2, gak tau ah..masalah jodoh sudah ada yang atur..

Oro-oro Ombo biasanya dipenuhi banyak bunga yang mirip Lavender, namanya Verbena Brasiliensis, tapi waktu kami kesana udah gak ada, mungkin sudah kering. Jadi kami cuma lihat dari atas saja. Setelah itu kami kembali ke camp dan beres2. Masnya sudah memasak pecel, krupuk dan mie telor untuk kami. Btw masnya ini kuat sekali bahkan di malam hari pun gak jaketan dan cuma pake kaos lengan panjang, hebat banget. Pukul 10:00 kami mengucapkan selamat tinggal ke Ranu Kumbolo dan turun kembali ke bawah.

Kalo naik gunung jangan lupa sampahnya dibawa turun juga..

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *