Kenapa Aku Tidak Betah di Jerman

Füssen, Germany

Tinggal di Eropa memang merupakan salah satu impianku dari dulu. Tetapi setelah tinggal di Jerman lebih dari 3 tahun, malah akunya yang bosan dan ingin kembali ke Indonesia. Ternyata aku pikir memang lebih enak tinggal di negara sendiri. Jadi apa sih yang buat aku gak betah itu? yang pertama makanannya. Waktu aku pertama kali datang kesana sebagai AuPair aku gak bisa masak, aku selalu ikut makan host fam aku, mereka kalau pagi cuma makan sereal alias muesli dan yoghurt, sementara siang baru something warm, semacam spaghetti, schnitzel, mashed potatoes. Kalau malam makannya roti gandum yang atos itu sama butter dan salami. Setelah beberapa bulan aku sudah bisa mulai masak, jadi aku setiap hari masak, tapi lama kelamaan bosen masak juga. Terus kalau mau makan di luar sering sering mahal. Kalau di Munich biasanya yang paling murah yaitu kios kebab sekitar 3,5, kalau mau di restaurant ya lebih mahal.

Selain makanan, kalau disana harus melakukan pekerjaan rumah sendiri,nyapu, ngepel, cuci baju, lap-lap. Apalagi kalau habis pulang kerja, sudah capek masih harus masak dan bersih-bersih. Kebayang capeknya.

Lalu kalau kemana-kemana disana aku harus jalan kaki, jalan kaki ke MRT, ke stasiun bis, ke stasiun tram, memang sih it’s not a big deal, cuma kadang kalau jaraknya dari stasiun ke rumah jauh atau lagi hujan/salju deras atau beli groceries banyak di supermarket yang jauh, terus harus naek public transport itu gak enak banget. Kalau naik taxi ongkosnya mahal. Gak ada ojek. Waktu aku AuPair di kota kecil, hari minggu gak ada bis dari dan ke kota terdekat, Munich. Bisnya yang terakhir berangkat hari Sabtu sore jam 18.

Hal lainya yaitu semua toko, supermarket di hari Minggu dan hari libur tutup. Jadi misalnya gak ada teman/keluarga jadi bingung mau ngapain seharian, apalagi saya yang biasanya hari Minggu di Surabaya berjalan-jalan ria di Mall jadi merasa kesepian. Terus alasan yang terakhir kangen sama ortu di kampung. Ya emang bisa telepon/video call tetapi rasanya beda gitu.

Memang selain gak enaknya, banyak juga enaknya seperti jadi lebih mandiri, pendidikan bagus, gaji ok, aman, semuanya ada asuransi, mulai dari asuransi kesehatan, rumah, kecelakaan, sampai asuransi jika merusakkan barang orang lain. Tapi itu semua kembali ke pribadi masing-masing, setiap orang punya pendapat dan pemikiran yang berbeda-beda. Yang saya tulis diatas merupakan opini saya pribadi.

5 Replies to “Kenapa Aku Tidak Betah di Jerman”

  1. hallo ka ,nice infoo :).
    apa masih jadi au pair sekarang? sya mau tanya kalo kita sudah jadi au pair bisakah kita kuliah atau bekerja tempat lain?
    terima kasih kaaak

    1. Hi☺ skrg uda plg di Indonesia. Setauku kalo selama visanya masi AuPair ga boleh kuliah atau kerja lainya, bolehnya les bahasa.

    2. halo kamu mau aupair juga ya tahun ini boleh minta email kali aja saling membantu 🙂

  2. Selamat malam. Saya mau tanya tanya dikit nih. Soalnya saya cukup tertarik jadi aupair ke jerman.
    Kalau misalnya kita gak betah di satu keluarga bisa pindah ke keluarga lainnya? Bukannya ada surat kontrak ya sis ??

    Terus kalau misalnya udah 1 tahun tapi betah, apa bisa kita memperpanjang visa aupair kita? Oh ya sis kan di jerman 3 tahun, itu menggunakan visa apa?? Maaf banyak tanya hehe. Terima kasih

    1. Iya sis boleh kok pindah keluarga. Kalau habis setaun harus ganti visa, ga bisa pake visa Aupair lagi. Aku habis aupair pake visa FSJ lalu visa Deutschkurs 🙂 hope that helps.

Leave a Reply