Mencari Kerja Sosial di Jerman

Sebenarnya setelah selesai AuPair saya ingin melanjutkan visa saya dengan visa kursus bahasa Jerman. Saya dulu tidak ada pikiran untuk ikutan program kerja sosial atau nama lainnya FSJ (Freiwilliges Soziales Jahr) ini karena saya dengar dari hostfam saya yang pertama jika uang sakunya hanya 100-200 Euro dan harus kerja full time. Tetapi saya baru tahu 1,5 bulan sebelum visa habis, bahwa salah satu syarat jika ingin ganti ke visa kursus adalah setelah selesai kursus bahasa kita bisa melanjutkan pendidikan di Jerman. Nah, dalam kasus saya, saya harus mengirim ijazah S1 saya ke Uni-assist atau ke Zeugnisanerkennungsstelle agar bisa diakui.

Waktu yang cuma 1,5 bulan sangat tidak memungkinkan untuk menyiapkan segala dokumen, apalagi hasilnya annerkenung yang kira-kira bisa 1 bulan lebih. Setelah pulang dari Auslaenderbehoerde alias kantor orang asing saya stress dan telepon teman saya Tina, sesama aupair dari Vietnam. Lalu dia cerita bahwa dia sudah mendapat tempat FSJ di salah satu rumah sakit di München dan dia mendorong saya segera melamar juga, mungkin saja saya beruntung gitu katanya. Lalu saya segera mencari di internet tempat-tempat yang membutuhkan FSJ. Saya menemukan 4 tempat yang kelihatannya masih butuh, lalu saya telepon dan bertanya apakah mereka masih membutuhkan FSJ dan apakah mereka menyediakan tempat tinggal. Dari 4 tempat yang menyediakan tempat tinggal hanya 3, jadi saya hanya apply ke 3 tempat tersebut. Tina mengirimkan saya contoh surat motivasi dan hostdad saya membantu mengedit. Setelah mengirimkan dokumen yang dibutuhkan, seperti fotokopi paspor, visa/ijin tinggal, dan terjemahan ijazah saya serta surat motivasi dan CV (waktu itu saya hanya punya sertifikat bahasa level A1 tapi tidak ikut saya kirimkan), dalam satu setengah minggu saya mendapat telepon untuk wawancara di 3 tempat.

Wawancara saya yang pertama berada di palang merah Jerman di Kaufbeuren. Mereka hanya bertanya apa saja pengalaman saya serta bercerita mengenai seminar untuk para FSJ, mereka bilang bahwa mereka dapat menempatkan saya di rumah sakit dan menjadwalkan saya keesokan harinya untuk hospitasi di rumah sakit tersebut.

Nah, wawancara yang kedua berada di organisasi Katolik di Passau. Wawancara yang “dijadwalkan” pukul 14 dan saya 20 menit sebelumnya sudah menunggu di depan ruangan dengan satu orang lagi. Kami menunggu sambil keheranan karena tidak ada seorang pun disekitar hingga pukul 15:30. Hingga akhirnya ruangan tersebut dibuka dan keluar dari situ sekitar 12 anak muda dan seorang wanita. Lalu kami pun bertanya kepada wanita tersebut mengenai wawancara kami dan dia bilang bahwa acara tersebut sudah dimulai dari pukul 13. Lalu mungkin karena kasian, kami dipersilakan masuk ke ruangan tersebut dan dia menjelaskan secara singkat bahwa organisasi tersebut bisa menempatkan para FSJ ke tempat seperti rumah sakit, sekolah anak berkebutuhan khusus, panti jompo, tetapi karena kami datang terlambat di wawancara, banyak dari tempat tersebut yang sudah dipilih oleh calon FSJ lainnya sehingga hanya tersisa panti jompo. Saya segera bilang tidak untuk yang ini dan wanita tersebut mengembalikan semua dokumen yang saya pernah kirim.

Wawancara saya yang ke 3 berada di rumah bagi orang-orang berkebutuhan khusus di München. Di hari dan jam yang ditentukan saya datang untuk hospitasi dan waktu itu ada 5 orang yang sedang bekerja disana. Mereka menjelaskan kepada saya apa yang harus mereka lakukan disana dan memperkenalkan saya kepada orang-orang yang tinggal disana. Mereka sangat ramah dan baik-baik sekali. Saya melakukan hospitasi ini selama 5 jam supaya bisa mengerti rutinitas di tempat ini.

So setelah selesai wawancara dengan ke 4 nya, saya memutuskan untuk mengambil yang di München. Mereka segera memberikan saya dokumen yang diperlukan (kontrak kerja, asuransi kesehatan, surat yang menyatakan mereka memberi saya tempat tinggal) untuk mengurus visa dan sekitar 2 minggu saya sudah mendapat visa baru.

Leave a Reply